PERAN PSIKOLOGI KONSELING DALAM MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN SOSIAL SISWA

PERAN PSIKOLOGI KONSELING DALAM MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN SOSIAL SISWA
(Oleh Ulfatul Khabibah)

A. Pengertian Psikologi Konseling
     Psikologi konseling berasal dari dua kata, yaitu psikologi dan konseling. Para ahli memiliki pandangan bahwa kedua istilah ini mengandung arti yang berbeda. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, dan konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu agar individu itu menjadi pribadi yang mandiri dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Untuk lebih lengkapnya,  Mashudi (2013:15) menjelaskan bahwa psikologi berasal dari bahasa Greek, Yunani, yaitu psiche dan logos. Psiche berarti jiwa, sukma, dan roh. Sedangkan logos berarti ilmu pengetahuan atau studi. Jadi, pengertian psikologi secara harfiah adalah ilmu tentang jiwa.
      Woodwoth dan Marquis (dalam Mashudi, 2013: 15) juga mengemukakan bahwa “psychology is the scientific study of the individual activities in relation to environment”, yang artinya “psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas individu dalam hubungannya dengan lingkungan”.
      Sedangkan pengertian koseling secara etimologi berasal dari bahasa latin, yaitu consillium (dengan atau bersama), yang dirangkai dengan menerima atau memahami. (Mashudi, 2013: 16).
      Pepinsky dan Pepinsky (dalam Mashudi, 2013:16-17) menyebutkan bahwa konseling adalah interaksi yang terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dann klien. Interaksi ini terjadi dalam suasana yang profesional, dilakukan dan  dijaga sebagai alat untuk memudahkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien.
      Selain itu, Smith (dalam Mashudi, 2013:17) menyebutkan bahwa konseling adalah suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat interpretasi-interpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan, rencana, atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
      Mc.Daniel (dalam Mashudi, 2013: 18) menyatakan bahwa konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien. dalam pertemuan itu, konselor membantu klien  mengatasi  kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Tujuan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan diri, baik dengan diri maupun lingkungan.
      Dari pengertian di atas, maka dapat dipahami bahwa pengertian psikologi konseling adalah proses konseling atau pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang konselor kepada individu yang mengalami masalah melalui pendekatan psikologi, dengan tujuan agar individu itu menjadi pribadi yang mandiri, mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

B.  Pengertian Perkembangan Sosial
      Perkembangan sosial merupakan proses pencapaian kematangan seseorang dalam hubungan sosial. Nurihsan dan Agustin (2013: 44) mengemukakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi, meleburkan diri menjadi suatu kesatuan, saling berkomunikasi dan bekerja sama.
      “Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial” (Zusnani, 2013: 86)
      Sofyan (2014: 28) memberikan pengertian perkembangan aspek sosial sebagai berikut.
       Perkembangan aspek sosial merupakan memperoleh kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial dan mampu bersosialisasi dengan memerlukan tiga proses sebagai berikut: dengan baik, anak-anak harus menyukai orang dan aktivitas sosial, juka mereka berhasil melakukan mereka akan dapat menyesuaikan diri dengan baik dan akan diterima sebagai anggota kelompok.
      Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial merupakan proses belajar untuk menyesuaikan diri dalam berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial serta norma-norma yang berlaku dalam suatu  kelompok sosial.

C.  Ciri-Ciri Siswa Dengan Perkembangan Sosial Yang Belum Optimal
      Nurihsan dan Agustin (2013:46) mengemukakan bahwa perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orang tua, orang dewasa lainnya hingga teman sebaya.
     Nurihsan dan Agustin (2013:46) memberikan penjelasan tentang ciri-ciri anak yang perkembangan sosialnya belum optimal karena faktor lingkungan sekitar yang tidak mendukung, yaitu:

  1.       bersifat minder,
  2.       senang mendominasi orang lain,
  3.       bersifat egois/selfish,
  4.       senang mengisolasi diri/menyendiri,
  5.       kurang memiliki perasaan tenggang rasa, dan
  6.       kurang mempedulikan norma dan perilaku.

D. Masalah Yang Sering Dialami Siswa Yang Perkembangan Sosialnya Belum Optimal
     Nurihsan dan Agustin (2013:61-62) memberikan penjelasan tentang masalah yang sering dialami siswa yang perkembangan sosialnya belum optimal, yaitu:
·         ingin menang sendiri,
·         sok berkuasa,
·         tidak mau menunggu giliran bila sedang bermain bersama,
·         selalu ingin diperhatikan atau memilih-milih teman,
·         agresif dengan cara menyerang orang atau anak lain,
·         merebut mainan atau barang orang lain,
·         merusak barang teman lain,
·         tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan
·         gangguan komunikasi.
      “Anak-anak yang kurang bisa berkomunikasi akan mengalami hambatan sosial dan akhirnya dalam dirinya timbul perasaan tidak mampu dan rendah diri” (Mulyanti, 2013: 31).

E.  Proses Atau Cara Mengoptimalkan Perkembangan Sosial Siswa Melalui Psikologi Konseling
     “Salah satu upaya yang sangat strategis untuk menghadapi masalah kehidupan yang semakin kompleks adalah layanan konseling” (Mashudi, 2013: 239). Dalam menyelesaikan masalah melalui psikologi konseling tentu digunakan layanan konseling, yang di dalamnya juga terdapat pendekatan atau unsur-unsur psikologi. Beberapa layanan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.
1.   Layanan Orientasi
       Memberikan layanan orientasi akan mendorong anak untuk dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik. “Layanan orientasi berupaya menjembatani kesenjangan antara seseorang dengan suasana ataupun objek-objek baru” (Prayitno, 2004: 2).  Dalam mewujudkan penyesuaian sosial seorang guru pembimbing harus bekerja sama dengan orang tua siswa, dan masyarakat sekitar siswa, karena menurut Schneiders (dalam Nurihsan dan Agustin, 2013: 83) “penyesuaian sosial mempunyai tiga aspek, yaitu: penyesuaian sosial di lingkungan rumah dan keluarga, di lingkungan sekolah, dan di lingkungan masyarakat”.
2.  Layanan Informasi
       Layanan informasi diberikan kepada siswa agar memahami informasi tertentu yang sebelumnya tidak dipahami. Prayitno, (2004: 1) mengemukakan bahwa informasi sangat diperlukan oleh individu, mengingat kegunaan informasi sebagai acuan untuk bersikap dan bertingkah laku sehari-hari, sebagai pertimbangan bagi arah pengembangan diri, dan sebagai dasar pengambilan keputusan.
3.  Layanan Konseling Sosial-Pribadi dan Belajar
      Memberikan  layanan konseling sosial-pribadi dan belajar yang memang bertujuan untuk memfasilitasi para siswa dalam mengembangkan potensi diri mereka secara optimal, baik yang terkait dengan  aspek intelektual, emosional,  sosial, maupun moral spiritual. Konseling pribadi ini ditujukan agar individu dapat memahami norma, aturan, atau adat yang dijunjung tinggi oleh kelompok masyarakat sekitarnya (Mashudi, 2013: 240).
4.  Layanan Konseling Ekologis
     Konseling ekologis adalah upaya memfasilitasi perkembangan potensi individu (fisik, psikis, sosial, dan moral-spiritual) melalui penciptaan iklim lingkungan kehidupan fisik, psikis, dan sosial yang kondusif, nyaman, menyenangkan dan harmonis, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat (terapi psikologis, normatif, dan rekreatif)” (Mashudi, 2013: 240).
      Layanan konseling ekologis dilakukan dengan kerjasama antar pihak yang terkait (keluarga, sekolah dan lembaga pemerintah atau swasta) di dalamnya.
5.  Layanan Konseling Religius(Islami)
      “Konseling religius yaitu proses bantuan yang diberikan kepada individu agar memperoleh pencerahan diri dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama” (Mashudi, 2013: 244).
      Mashudi (2013: 245) juga menjelaskan bahwa “agama dapat memberikan pencerahan terhadap pola sikap, pikir, dan perilakunya kearah kehidupan personal dan sosial yang sakinah, mawaddah, rahmah dan ukhuwah”.
      Selain menggunakan layanan-layanan konseling, mengoptimalkan perkembangan sosial siswa juga dapat digunakan teknik konseling, yaitu teknik behavioristik, yang meliputi reinforcement dan social modeling.
1.   Teknik-Teknik Behavioristik
a.   Reinforcement
       Untuk membangkitkan kepercayaan diri, dapat digunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku seperti menggunakan penguat positif, misalnya memberikan pujian atas apa yang telah dilakukan oleh anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Mashudi (2013: 138-139) menjelaskan bahwa  dengan memberikan pujian verbal(reward) ataupun hukuman(punishment), klien dapat menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya, serta mendorong klien kearah tingkah laku yang lehih rasional dan logis.
b.   Social Modeling
      Teknik social modeling berfungsi membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. “Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi(meniru), mengobservasi, menyesuaikan diri, dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor” (Mashudi, 2013: 139).
      Nurihsan dan Agustin (2013: 97) mengemukakan bahwa untuk mengoptimalkan perkembangan sosial siswa dapat digunakan bimbingan etika pergaulan yang termasuk bidang bimbingan sosial-pribadi, dan layanan bimbingannya dapat dilakukan melalui layanan informasi dan bimbingan kelompok, baik di dalam maupun di luar kelas, secara terjadwal maupun insidental.

Daftar Pustaka

Mashudi, Farid. 2013. Psikologi Konseling. Jakarta: IRCiSoD
Mulyanti, Sri. 2013. Perkembangan Psikologi Anak. Yogyakarta: Laras Media    Prima
Nurihsan, Achmad Juntika dan Mubiar Agustin. 2013. Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Refika Aditama
Prayitno, 2004. L1-L9. Padang: Universitas Negeri Padang
Sofyan, Hendra. 2014. Perkembangan Anak Usia Dini dan Cara Praktis    Peningkatannya. Jakarta: CV.Invomedika
Zusnani, Ida. 2013. Pendidikan Kepribadian Siswa SD-SMP. Bandung: Platinum


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Identifikasi Perilaku Abnormal pada Anak Usia Dini - Sekolah Dasar

Program Bimbingan dan Konseling

KETAHANAN NASIONAL DI BIDANG EKONOMI (Plus Kasus)