MENYONTEK :)
Yakin Tidak Pernah Menyontek?
Musim Ujian telah tiba, mulai dari ujian semester, ujian akhir
sekolah, ujian nasional, hingga ujian masuk perguruan tinggi. Apa sih inti dari
ujian itu? Ujian bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi potensi seseorang
dalam suatu bidang yang diujikan, dan untuk mendapatkan hasil uji yang valid
dan akurat, objek yang diuji tersebut harus jujur terlebih dahulu, tanpa
diselingi perilaku curang ataupun menyontek.
Kata mencontek sudah tidak asing lagi ditelinga kita, bahkan ada yang
mengatakan menyontek sebagai plagiat. Menyontek sering kali dijadikan sebagai
sebuah cara instan oleh para siswa untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan tugas, PR, bahkan saat ujian. Tidak jarang ditemui beberapa orang dari
siswa yang merelakan sebagian dari uang sakunya untuk membayar orang lain, atau
bahkan teman mereka sendiri untuk mengerjakan tugas, PR, maupun untuk membeli
kunci jawaban. Tanpa berfikir panjang dan tanpa memikirkan nasib diri mereka
kedepannya.
Menyontek merupakan perilaku curang yang dilakukan untuk memperoleh hasil yang
maksimal dengan cara yang tidak halal seperti membuka catatan, bertanya kepada
teman, ataupun melihat jawaban langsung dari internet, dan perilaku lainnya
yang tidak dibenarkan untuk dilakukan, karena tidak hanya merugikan orang lain,
tetapi juga sangat merugikan diri sendiri.
Mengapa menyontek terasa sangat sulit untuk dihilangkan? Ada empat hal yang
dapat menyebabkan perilaku menyontek, sehingga untuk menghilangkan budaya
menyontek, keempat hal tersebut juga harus dihilangkan terlebih dahulu, atau
setidak-tidaknya diminimalisir. Keempat hal tersebut adalah:
1. Pribadi yang ingin
mendapatkan nilai dengan cara yang mudah.
2. Lingkungan pendidikan
yang tidak kondusif.
3. Tingkat kesulitan
soal.
4. Kurangnya kualitas
pendidik.
Faktor pertama perilaku menyontek adalah karena pribadi tersebut yang ingin
mendapatkan nilai yang baik tanpa usaha yang keras. Pengaruh lingkungan
pendidikan, seperti tekanan teman sebaya, budaya sekolah, budaya
bersenang-senang, dan rendahnya resiko untuk ditangkap atau dihukum juga
mendorong terjadinya perilaku menyontek.
Kurangnya kualitas pendidik juga merupakan faktor penyumbang terjadinya
perilaku menyontek. Hal itu terjadi ketika bahan tidak relevan dan sikap
pendidik yang acuh tak acuh, dan tidak memperhatikan tingkat kesulitan soal
yang diberikan.
Perilaku menyontek sebagai perilaku yang kompleks (rumit) yang disebabkan oleh
berbagai macam faktor, juga dapat terlihat dalam berbagai bentuk perilaku yang
terkadang tidak kita sadari bahwa sebenarnya kita sudah melakukan perilaku
menyontek.
Hetherington dan Feldman mengelompokkan empat bentuk perilaku menyontek, yaitu:
- Individualistic-opportinictic- dapat diartikan sebagai perilaku mengganti suatu jawaban ketika ujian atau tes sedang berlangsung, dengan menggunakan catatan ketika pengawas sedang keluar dari ruang ujian.
- Independent-planned- dapat diidentifikasi sebagai menggunakan catatan ketika ujian sedang berlangsung, atau membawa jawaban yang telah lengkap atau telah dipersiapkan dengan menulisnya terlebih dahulu sebelum ujian berlangsung.
- Social-active- yaitu menyontek dimana individu mengkopi, melihat atau meminta jawaban dari orang lain.
- Social-passive- adalah mengizinkan seseorang melihat atau mengkopi jawabannya.
Pernahkan Anda menyontek? Jawaban ada pada diri anda sendiri. Perilaku
menyontek pasti memberikan kesan tersendiri pada pelakunya. Menyontek bisa jadi
terasa biasa-biasa saja ketika sudah sering dilakukan. Namun kesan seperti rasa
cemas, takut ketahuan, bahkan panas dingin bisa saja dirasakan oleh orang yang
baru pertama kali atau jarang mencontek.
Mencontek benar memberikan keuntungan dari segi hasil yang berupa nilai. Namun
kerugian yang ditimbulkan juga sangat banyak, dilihat dari proses, dan
penerapan suatu keahlian. Apa kesan yang Anda rasakan dari perilaku menyontek?
Tidak menutup kemungkinan bagi Anda yang mendapati anak didik anda yang
menyontek.
Menyontek itu hal yang rumit, tak tahu dari mana asalnya. Tidak bisa
dipungkiri, saya pun pernah menyontek.
Saya akan menyontek ketika waktu ujian sudah hampir habis, sehingga saya
termasuk kedalam golongan orang yang melakukan bentu perilaku menyontek Social-
active & Social- passive. Ya! Benar! Saya berusaha
untuk tidak membuka catatan dan internet. Bahkan saya sering mengosongkan
jawaban jika saya benar-benar tidak tahu jawabannya. Saat ujian,
dibanding menyontek saya lebih senang memperhatikan orang yang menyontek.
Disana timbul kesan “pengawas ujian diawasi oleh peserta ujian”.
Mereka yang berusaha untuk membuka catatan cenderung mengawasi pengawas,
mungkin karena takut ketahuan. Ya, saya rasa demikian.
Saya senang duduk di depan saat ujian, kenapa? Karna saya malas menjawab pertanyaan
orang-orang yang mungkin tidak belajar(tidak mau susah). Mungkin saya apatis,
tapi itulah yang ada dalam pikiran saya.
Semester lalu. Ya! Semester lalu. Saat ujian saya duduk di depan, ujung dekat
pintu keluar. Dosen yang mengawasi kami tidak ada sedikitpun rencana untuk
beranjak dari kursinya. Tak sengaja saya menoleh ke belakang, saya melihat
seorang teman saya sedang memegang penanya, digoyang-goyangkan nya hingga
menyentuh pipi. Saya pandang sorot matanya, tertanya mata itu tertuju pada
dosen kami. Sekejap saya alihkan pandangan, juga menatap dosen kami. Dalam
hatiku “apa yang salah dari Bapak ini ya? Kok diliatin terus..”. saya memandang
lebih dalam, sehingga saya tak sadar diri jika Dosen tersebut merasa tidak
nyaman dengan pandangan saya. Saya rasa, dosen tersebut risih, mungkin dosen
tersebut juga berpikir “kenapa saya diliatin terus? Apa ada yang salah?”.
Saya mulai sadar ketika dosen tersebut berkata: “mahasiswa sekarang tu aneh ya?
Masak waktu ujian malah pengawasnya yang diawasi..”. Saya langsung menunduk,
dan mengerjakan kembali soal saya.
Hampir 5 menit saya memandangi dosen tersebut. Dan akhirnya saya yang salah
tingkah. Semua jawaban yang sudah saya susun rapi tiba-tiba hilang, berceceran
entah kemana. Hingga waktu ujian hampir habis, saya susun kembali jawaban,
hingga selesai.
Ya, itulah kisah seputar menyontek yang saya lakukan. Menyontek itu merugikan.
Menyontek merupakan sebuah kesalahan, juga termasuk dosa, karena termasuk dalam
perbuatan menipu. Mari hilangkan budaya menyontek. Tanamkan dalam diri bahwa
menyontek adalah dosa. Satu “ . ” sama dengan 1 bobot timbangan dosa. Berapa
banyak dosa yang harus dipertanggungjawabkan kelak? Jawaban ada pada diri kita
masing-masing.
Essay Menyontek - Jambi, 12 April 2016
Komentar
Posting Komentar